Makan sehat & tasty di Kenny Rogers Roasters

23 Oct

Siapa sih yang nggak mau punya badan ideal dan tetap fit? Saya juga salah satu yang sangat ingin punya badan yang ideal (walaupun susah banget ya, hehe..). Banyak cara yang orang tempuh untuk mendapatkan hasil badan dengan massa lemak seminimal mungkin: rutin berolahraga di gym atau food combining jadi beberapa pilihannya. Buat saya sendiri, cara paling mengasyikkan pastinya food combining dengan mengkonsumsi makanan dengan kalori yang tidak berlebihan.

Beberapa hari lalu saya diundang oleh Kenny Rogers Roasters untuk datang ke launching restoran pertamanya di Bandung, tepatnya di Mall Paris Van Java di daerah Sukajadi. Saya memang sempat beberapa kali makan di KRR di Grand Indonesia, tapi belum sempat review makanannya, now it’s time for me to share it to you! 

Kenny Rogers Roasters di Mall PVJ, Bandung

Kenny Rogers Roasters di Mall PVJ, Bandung

Kenny Rogers Roaster memang mengusung tema healthy food dan berkomitmen untuk menjaga sajiannya sehat untuk dikonsumsi, itulah mengapa di restoran asal Amerika ini makannya tidak ada yang digoreng akan tetapi dipanggang, dikukus, dibakar, ataupun fresh (misalnya salad). Selain itu, makannya Less Fat, Less Salt & Less Calories, kayaknya pas buat yang memang ingin tetap menjaga kesehatan tapi makan enak. Di acara launchingnya sendiri saya mencoba Red Hot Meal yaitu Roasted Chicken yang jadi andalan restoran ini disajikan bersama salad, BBQ baked bean & mashed potato, Let’s try this tasty looking dish!

Red Hot Meal @ Kenny Rogers Roasters

Red Hot Meal @ Kenny Rogers Roasters

Potongan ayam panggang ini sih sesuai selera saya, luarnya cukup garing dan bagian dalamnya sangat lembut sehingga mudah untuk memotongnya dan masuk mulut karena setiap ayam katanya dipanggang di dalam rotisserie selama kurang lebih satu jam sehingga lemak berkurang namun daging tetap lembut dan tidak overcook. Rasanya? balancing gravy dengan black pepper yang menjadi saus ayam ini begitu pas terasa, walaupun tanpa garam, Kenny Rogers Roaster cukup pintar membuat ayam ini tetap tasty. Begitupun dengan Mashed Potatonya, mungkin sedikit hambar bagi lidah kebanyakan, tapi ini justru sehat karena bebas garam. Begitu pula dengan BBQ Baked Potato, ketiadaan garam terkompensasi oleh rasa saus barbeque selain kematangan kacangnya juga pas. Dari semua side dish, yang rasanya paling tasty ya fresh saladnya, balance antara manis & asamnya. Secara keseluruhan, Red Hot Meal ini enak dan mengenyangkan! Porsi di Kenny Rogers Roasters ini memang cukup generous jadi cocok buat santapan makan siang atau makan malam ketika perut sedang lapar-laparya.

Ada banyak pilihan menu lain di restoran ini misalnya saja Chicken Quarter Meals (seperempat ayam dengan pilihan tiga side dish disajikan bersama muffin) yang pastinya bikin kenyang atau pilihan baru menu udang “Kenny Shrimp Feast” dengan empat sajian udang (ini bakal jadi menu pilihan kalau makan di sini lagi, dari gambarnya terlihat enak!). Setelah berkunjung makan di sini saya malah langsung ingin bikin plan untuk lebih menjaga pola makan dan memperbanyak makan buah, kalaupun “nggak kuat” pengen makan enak, ya bisa ke Kenny Rogers lagi kan? Hehe..

Escalator Coffeehouse: Kedai Kopi Baru di Rasuna Kuningan

18 Oct

Saya bukan penggila kopi. Itulah mengapa ketika tempat ngopi baru banyak bermunculan di Jakarta saya merasa biasa aja karena memang nggak sebegitu fanatik pencinta kopi lainnya yang wajib meluangkan waktu untuk menyeruput kopi hampir setiap hari. Beruntungnya, suatu malam saya diajak teman untuk datang ke first day opening sebuah Coffee shop baru di bilangan Rasuna, Kuningan. Awalnya agak malas karena saat itu pekerjaan di kantor lagi cukup padat, tapi kenapa nggak juga siapa tahu tempatnya nanti hits, kan lumayan baru perdana buka, hehe..

Escalator Coffeehouse

Inside Escalator Coffeehouse

IMG_7596

I Like this Chalkboard Art

Namanya Escalator Coffeehouse, terletak di bilangan Rasuna – Kuningan, tepatnya di Rasuna Office Park sebrang Aston Rasuna. Ketika masuk ke gedung Rasuna Office Park kami disambut oleh escalator yang langsung menuju lantai dua dan Escalator Coffehouse ada di sebelah kiri persis setelah kami tiba di lantai dua. Tempatnya memang tidak terlalu besar tapi sangat nyaman. Bagian dalam coffee shop ini didesain bisa membuat pengunjung betah untuk berlama-lama nongkrong sambil menikmati segelas kopi dan kudapan.

Malam itu pilihan saya jatuh pada Ice Hazelnut Latte untuk menutup weekdays yang melelahkan ditemani dengan Mini Chocolate Bundt sebagai cemilan. Rasa kopinya yang light dengan sentuhan Hazelnut sangat memang paling pas untuk menemani santai selepas jam kantor. Bagaimana dengan cakenya? Saya suka karena teksturnya lembut walaupun saya lebih suka apabila rasa cokelatnya lebih kuat. Overall, cukup menyenangkan nongkrong di coffee shop ini. Kalau kamu memang anak kantoran sekitar Kuningan, rasanya wajib sewaktu-waktu datang untuk nongkrong bareng teman sambil menunggu macet  :D.

Ice Hazelnut Latte & Mini Chocolate Bundt.

Ice Hazelnut Latte & Mini Chocolate Bundt.

Escalator Coffehouse

Gedung Rasuna Office Park, Lt.2, Jl. H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Sushi cita rasa Padang di Suntiang: A Fusion Confusion?

31 Aug

Berbagai restoran dengan konsep fusion memang sudah bukan barang baru, ada banyak restoran fusion yang saya suka, misalnya saja restoran fusion Italia – Jepang Pasta de Waraku yang sudah buka berbagai cabang di Jakarta dan sekitarnya. Diantara semua restoran dengan konsep fusion ini, ada satu restoran yang ketika pertama kali beroperasi beberapa bulan lalu langsung membuat heboh dunia Social Media, setidaknya di lingkaran pertemanan saya. Gimana nggak, restoran fusion ini memadukan makanan Padang yang dibalut style Jepang, waktu itu teman-teman di Social Media gempar dengan fenomena “Sushi Rendang”.

Hebohnya fenomena Sushi Rendang ini nggak lantas membuat saya langsung pengen cobain, malah cenderung nggak tertarik. “Ah, palingan rasanya gagal.. will be a fusion-confusion restaurant” kira-kira seperti itulah komentar saya menanggapi fenomena itu dulu. Barulah dua minggu lalu, saya akhirnya datang ke restoran ini (itupun setelah teman saya mengajak makan di sini terus karena penasaran), Suntiang namanya.

Suntiang Grand Indonesia

Suntiang Grand Indonesia

Dilihat dari luar, Suntiang lebih tempak seperti restoran sushi kebanyakan, interior dibuat cukup modern yang sangat berbeda dengan restoran Padang kebanyakan, lalu ada conveyor belt di tengah-tengah restoran tempat piring-piring sushi hilir mudik siap diangkut. Setelah memilih tempat duduk, tiba saatnya saya memesan. Begitu membuka buku menu, saya mulai senyum dan sedikit tertawa karena sungguh kocak rasanya ada yang benar-benar mewujudkan konsep fusion ini. Selain sushi rendang, tentunya Makanan Padang juara lainnya pun dihadirkan di sini dengan konsep berbeda seperti Sushi Gulai Otak, Sushi Ayam Pop, dan lainnya. Saya perhatikan setiap menu dan sempat terlontar komentar saya ke sang pelayan “Wah, becanda nih restoran!” sambil tersenyum, maksudnya saya takjub sang kreator berani menghadirkan restoran ini.

Piihan saya jatuh ke Sushi Rendang, Sushi Teri Balado, Salmon Asam Pade Roll & Sate 4 Musim. Sebenarnya ada banyak pilihan lain yang bikin perut berbunyi, tapi nanti deh lain kali, namanya juga pertama datang jadi coba yang kelihatan paling menggoda. “OK, let’s try it out!

Sushi Rendang

Sushi Rendang

Menu pertama yang dicoba tak lain dan tak bukan adalah Sushi rendang. Secara tampilan sangat cantik: irisan daging rendang ada di atas gulungan sushi berisi rendang & timun, di bagian bawah terdapat mayonaise yang dicampur bumbu rendang. Begitu masuk mulut… Rasanya ajaib! Detail seperti mayo bercampur bumbu rendang ternyata rasanya lumayan harmonis. Selebihnya? Ya sebagaimana rasa rendang pada umumnya: enak dan kaya rempah. Selanjutnya saya mencoba sate 4 musim, ini adalah sate kombinasi 4 lauk rumah makan padang yang melegenda: Limpa, Udang, Hati Sapi, & Ampela Ayam. Semuanya berbalut bumbu rendang kecuali udang yang dibaluri bumbu balado. Sate 4 Musim ini disajikan dengan cocolan mayonaise bercampur bumbu rendang lagi, saya sih suka rasanya.. Walaupun jadi kepengen pesan nasi putih karena gak tahan lauknya udah enak begini.

Sate 4 Musim: Limpa, Udang Balado, Ati Sapi & Ampela.

Sate 4 Musim: Limpa, Udang Balado, Ati Sapi & Ampela.

Dua menu lainnya yaitu sushi teri balado dan salmon asam pade roll pun tidak mengejutkan rasanya, tapi bukan berarti tidak enak, malahan saya kepengen nambah dan coba menu lain. Nasi pada sushinya terasa lebih pulen dibandingkan restoran Sushi lain sehingga memang nge-blend dengan lauknya, bikin pengen nambah karena porsinya kelihatan kecil padahal lumayan mengenyangkan.

Sushi Teri Balado

Sushi Teri Balado

Salmon Asam Pade Roll

Salmon Asam Pade Roll

Mencoba 4 menu tadi di Suntiang membuat anggapan awal saya soal “fusion confusion” agaknya tidak terbukti, karena surprisingly rasanya memang enak. Seperti makan di restoran Padang saja  dengan kemasan yang elevated. Campuran Mayonaise dengan Bumbu rendang pun terasa pas sebagai kondimen dan porsinya yang tidak se”kuli” restoran Padang.  Jadi, kalau masih ragu untuk cobain Suntiang atau justru malah penasaran dengan restoran fusion dengan konsep agak gila ini, silahkan coba.. worth to try!

 

Suntiang

Grand Indonesia Level 3A, Jakarta.

Asiknya jajan ‘Djadjan’ – Soes rumahan yang bikin ketagihan

27 Aug

Keinginan untuk punya badan lebih kurus akhir-akhir ini semakin susah terwujud, apalagi kalau setiap sore di kantor jadi punya jam khusus untuk “cemil sore”. Mulai dari bakso, molen, atau cemilan lain yang emang asik untuk menemani kerja di jam tanggung sebelum pulang. Kebiasaan ini pastinya bikin khawatir sih, apalagi yang namanya ngemil pasti sering dianggap enteng, main makan saja padahal kalori udah menumpuk.

Anyway, dua minggu lalu teman kuliah saya Niken post di Path-nya mengenai bisnis barunya yaitu kue soes. Saya sendiri belum sempat ngobrol dengan Niken soal kenapa memilih bisnis kue soes dan cake cokelat yang dikasih nama Djadjan ini, tapi yang pasti langsung saya lakukan adalah mencicipi Djadjan yang katanya dibuat dari bahan-bahan yang lebih rendah kalori dibandingkan soes lain. Kebetulan, lewat akun Path juga Niken sedang mencari konsumen potensial untuk diberikan free sample. Saya? langsung daftar pastinya. Ternyata cuma menunggu beberapa hari, satu box kue soes Djadjan ini sampai juga ke kantor untuk dicicipi dan jadi cemilan sore itu, yeay!

5 rasa kue Soes Djadjan

5 rasa kue Soes Djadjan: Vanilla, Cokelat, Kacang, Green Tea & Brown Sugar

Begitu membuka box yang berisi 5 buah soes ini saya langsung menebak apa saja rasa dari kue yang dalam bahasa Perancis disebut choux à la crème ini. Paling mudah menerka soes dengan lapisan cokelat dengan krim cokelat, lalu soes dengan taburan gula di atasnya  dengan krim putih, tentu saja vanilla! 3 rasa lain membuat saya tidak bisa menebak apa rasanya hingga saatnya mencicipi. Dimulai dari soes vanila: tekstur kue soesnya agak berbeda dengan kue soes yang suka saya beli di mall, bagian luarnya tidak terlalu kering (atau karena sebelumnya saya masukin ke kulkas dulu ya?) tapi malah bikin enak karena empuk dan bikin saya inget kue soes home made buatan ibu atau kakak ipar saya kalau lagi ada pesanan catering, krim vanillanya juga terasa pas dan nggak terlalu kuat, manisnya juga pas dan nggak blenger. 

Selanjutnya saya mencoba rasa cokelat, ini rasa yang paling “aman” karena pasti enak, lapisan cokelat di luar dan krim cokelat di dalam soesnya emang bikin ketagihan (dan kalau ngemil cokelat emang kayaknya nggak cukup satu, pasti minta nambah terus). Nah, 3 soes terakhir yang siap dilahap ini harus ditebak satu-satu. Kalau dicermati, ada dua soes yang sekilas tampak mirip karena keduanya menggunakan krim cokelat muda seperti peanut butter. Setelah dicoba, soes dengan rasa kacang memiliki ciri khas potongan kacang di atas kuenya yang sekilas memang tidak terlalu terlihat, sedangkan satunya lagi adalah soes dengan krim gula jawa, menarik!

Satu hal yang saya suka dari uniknya soes kacang ini adalah rasa krim kacangnya yang cukup pas manisnya ditambah potongan kacang yang chunky jadi bikin acara ngemil sore saya makin seru, walaupun ada satu kritikan untuk sang kreator saat memanggang / menyanggerai kacang, ada kacang yang tingkat kematangannya masih belum sempurna. Bagaimana dengan soes gula jawa? Rasa krim gula jawanya juga tidak terlalu mencolok dan manisnya pas, padahal tadinya saya pikir soes ini bakalan terasa blenger, saya salah nih. Terakhir, saya mencoba soes dengan rasa green tea yang belakangan pamornya meroket. Rasa krim green tea di dalam soesnya juga dibuat tidak terlalu kuat tapi juga nggak terlalu manis, saya sih suka sama rasa krimnya.

Overall, saya suka sama rasa soes Djadjan yang sangat rumahan tapi bikin ketagihan, apalagi kalau dimasukkan ke kulkas dulu supaya bikin krimnya jadi dingin, lezatnya!

Buat kamu yang mau jajan Djadjan, list harga dan kontaknya ada di bawah ini ya:

Daftar Harga Djadjan

Daftar Harga Djadjan

Berdasarkan informasi di Facebooknya Djadjan, ongkos kirim masih bervariasi tergantung lokasi pemesan, mulai Rp. 25.000 untuk wilayah Jakarta Selatan. Nah, coba deh kumpulin teman-teman kantornya buat jajan Djadjan bareng-bareng biar ngemil sorenya makin seroe!

Nikmatnya Bubur Ayam Kuah Kaldu Pedas & Bubur Ayam Daun Selada!

24 May

Selain nasi goreng, bubur sepertinya sudah menjadi salah satu menu andalan di saat kita lagi kebingungan mau makan apa, setidaknya hal berlaku buat saya. Selain itu, bubur juga makanan yang paling  pas buat kapan aja: saat perut kosong di pagi hari untuk sarapan, malam hari setelah pulang kerja atau saat sakit dan badan terasa nggak fit, pasti deh saya carinya bubur, ya kan?

Di sekitar kita sendiri lazimnya bubur yang banyak dijual tentunya bubur ayam (walaupun ada banyak bubur denga  lauk lain: bebek, ikan, sampai ubur-ubur, reviewnya ada di sini), dan jenisnya bermacan-macam mulai dari Bubur Cirebon dengan bermacam sate-satean hingga bubur Cina yang biasanya memiliki tekstur lebih encer dengan toping beragam yang khas. Nah, lewat review kali ini, saya mau ulas dua Bubur ayam kesukaan saya selain Bubur Fay yang sampai sekarang sering dibawakan teman saya ke kantor karena mereka buka cabang di Jatibening. Oh iya, alasan saya menyukai dua bubur ayam ini pun bukan hanya karena rasanya enak, tapi juga tak tergantikan karena mereka punya bahan yang menjadi ciri khas masing-masing yang beda banget dengan bubur lain. Here you go!

 

Bubur Ayam Cijawa

Bagi yang tinggal di Jakarta, perjuangannya agak ekstra nih buat makan bubur ini, karena letaknya di Serang, Banten. Bubur Cijawa sudah menjadi bubur kesukaan saya sejak kecil, pas saya duduk di bangku SD tepatnya. Kalau lagi ingin makan ini, bisa membuat saya pesan setiap pagi selama seminggu penuh, bahkan bubur ini juga sering jadi bekal sekolah saya dulu. Yang luar biasa, sejak dulu hingga terakhir saya makan seminggu lalu, rasa bubur ini tidak berubah, tetap terasa gurih & pedas yang khas.

Bubur Ayam Cijawa dengan kuah kaldu pedas

Bubur Ayam Cijawa dengan kuah kaldu pedas

Secara kasat mata, tampilan bubur ini sekilas sama saja dengan bubur lain yang menggunakan kuah kari, yang berbeda adalah, kuah yang digunakan untuk Bubur Ayam Cijawa dibuat lebih pedas. Ya, gurih pedasnya kuah kaldu di bubur ini sungguh pas melengkapi suwiran ayam, kacang kedelai goreng, daun bawang, daun goreng, kerupuk & emping. Cukup lengkap isinya dan yang terpenting, sampai sekarang harganya tetap murah. Terakhir saya makan, bubur ini harganya cuma tujuh ribu rupiah. Sampai sekarang bubur ini jadi sarapan wajib kalau sedang pulang kampung, kapan-kapan wajib coba juga nih!

My Foodgasm Tips: Bikin kerupuknya setengah kering, jangan dicampur ke kuah kaldu semua, biar ada kress kress nikmat! ;)

Bubur Ayam Cijawa

Jl. KH. Abdul Fatah Hasan, Cijawa, Serang – Banten

Buka (05:30 – 9:30 WIB)

 

 

Bubur Ayam Spesial Ko Iyo

Kedai kaki lima yang terletak di kawasan jajanan Pasar Lama Tangerang ini sudah menjadi makanan wajib keluarga (apalagi Bapak saya) selama bertahun-tahun. Seperti kedai kaki lima lain pada umunya, memang dari luar tendanya terlihat sangat sederhana tapi selalu ramai dikunjungi pelanggan. Ketika jaman SMA kalau diajak makan ke Pasar Lama oleh Bapak, saya jarang memesan bubur ini karena lebih tertarik untuk makan kaki lima sekitarnya yang menjual sate ayam ataupun bakso, tapi setelah sempat kehabisan menu lain dan saya cobain bubur ini, wah ternyata enak banget!

Kedai Kaki Lima Bubur Ayam Spesial Koh Iyo

Kedai Kaki Lima Bubur Ayam Spesial Ko Iyo

Secara rasa, bubur Ko Iyo punya keunikan tersendiri dari topinya yang langsung bisa kelihatan setelah semangkuk bubur hangat ini sampai ke meja. Ya, selain menggunakan toping  ayam cincang, tong cai,  cakwe dan ati ampela, bubur ini pakai daun selada! “Wah, seperti apa rasanya?” “Emangnya cocok?” Mungkin itu beberapa pertanyaan yang terlintas di pikiran. Ternyata, percampuran rasa bubur, ayam, ati ampela dan daun seladanya cukup Ok, mungkin secara tekstur jadi seperti makan Bubur Manado karena ada daun di dalamnya. Buat yang ingin mencoba unik dan lezatnya Bubur Ayam ini, jangan termakan nafsu dulu karena porsi Bubur Ayam Ko Iyo cukup besar, kecuali kalau memang lagi lapar banget, kayaknya pesan setengah porsi saja sudah cukup deh.

Bubur Ayam Spesial Ko Iyo dengan Daun Selada

Bubur Ayam Spesial Ko Iyo dengan Ati Ampela &  Daun Selada

My Foodgasm Tips: Tambahkan Merica + Kecap Asin sampai rasanya balance. Ini udah jaminan nikmat deh!

Bubur Ko Iyo

Jl. Kisamaun, Pasar Lama, Tangerang – Banten

(Buka: 17:00 – 23:00 WIB)

 

Mana yang lebih ingin kamu coba? :-p

Nasi Goreng Mafia: bukan cuma “cabe-cabean”

21 May

Sudah pernah mendengar “Nasi Goreng Mafia”? Bagi orang Bandung konon nama tempat makan ini sudah heboh dibicarakan dan katanya selalu ramai pengunjung. Bahkan, berbulan lalu salah satu teman saya yang tinggal di Bandung juga cerita mengenai kedai nasi goreng ini dan komentarnya “Lo harus coba! Pedes mampus!!!!!”

Apakah saya tertarik mencoba setelah mendengar komentar teman saya itu? Hmmm.. Nggak! kenapa? Saya bukan penggila makanan pedas kalau pedasnya “cabe-cabean” alias asal pedas tanpa ada keunikan atau cita rasa lain di dalamnya. Jadi ya kalau jaman kuliah teman saya pada kecanduan keripik setan atau keripik seblak, saya sih enggak begitu suka, saya lebih suka Basreng atau Batagor Kering yang walaupun pedas tapi sarat rasa ikannya, jadi beneran “ada rasanya”.

Anyway, minggu lalu saya melihat momen Path teman saya Teddy (@triatmojo) yang sedang mencoba Nasi Goreng Mafia di Tebet (waktu itu lupa menunya yang mana). Review dari Teddy lumayan membuat saya penasaran dan kayaknya saya harus mencoba langsung untuk membuktikan apakah tempat makan ini cuma jualan kemasan atau memang rasanya juga bisa dipertanggung jawabkan? So, i decided to try it without any expectation!

Setelah mencari-cari teman untuk makan ke sini, kebetulan salah satu teman dekat saya Dhepe (@dyahdhepe) mengajak makan malam bareng sepulang kantor, tanpa pikir panjang langsung deh saya bilang “Oke! kita makan Nasgor Mafia di Tebet ya!” (Kebetulan Nasgor Mafia ini searah rumahnya dan dia salah satu teman kuliah yang kecanduan keripik “cabe-cabean”), so of course she said yes!

Tampak Depan Nasi Goreng Mafia Tebet

Tampak Depan Nasi Goreng Mafia Tebet

 

Kedai Nasi Goreng yang terletak di sebeleh Electronic City Tebet ini cukup mudah dikenali, signage besar yang dipasang di bagian depan pasti terbaca jelas oleh pengunjung yang lewat selain karena memang berada di lokasi yang memang strategis untuk para penikmat makanan. First Impression ketika pertama kali masuk ke sini adalah… aroma cabai yang sedang digoreng sungguh menyengat, “Wah kayaknya pedasnya nggak main-main nih!” begitu kata saya dalam hati. Ketika pertama kali melihat menu yang ditawarkan, saya langsung tersenyum sekaligus agak sebal karena kemasan produknya sangat unik dengan menggunakan penamaan seperti “Preman” “Yakuza” dan nama penjahat lainnya sebagai nama menu serta level 0 hingga 5 yang dikemas dengan istilah yang menggelitik misalnya “Menenangkan” “Menyesakkan” sampai “Mematikan”. Kenapa sebal? Karena saya curiga jangan-jangan ini cuma jago ngemasnya aja seperti tempat makan atau produk lain, tapi rasanya ya gitu deh.. Males kan kalau cuma lucu-lucuan namanya aja? :-p

 

Menu Nasgor Mafia

Menu Nasgor Mafia, pilih mana ya?

Dugaan awal saya sedikit berubah saat membaca penjelasan pada setiap menunya, sepertinya sang kreator kedai ini cukup detail memikirkan tiap menu yang memang punya keunggulan masing-masing secara ide dan yang terpenting bagi saya, setiap ingredients yang digunakan di tiap menunya terasa cocok untuk dibuat menjadi pedas (bahkan konon super pedas). Ternyata insting saya terbukti ketika mencoba Nasi Goreng “Preman”. Saya memesan “Preman” karena menu ini menggunakan kencur sebagai salah satu bahan “rempah rahasia”nya, hal ini membuat saya teringat masakan mama di rumah yang beberapa kali membuat Nasi Goreng sejenis yang rasanya sangat enak untuk dibuat agak pedas serta dicampur dengan jeroan ikan, telor ikan atau ati ampela.. Nyam nyam!! Sayangnya, di Nasi Goreng Mafia hanya menyediakan tambahan toping telor (bisa request dadar atau ceplok), Extreme Kikil (Kikil bumbu oseng cabai) dan Lenggang Kikil (Kikil yang dicampur dengan telor). Namun Saya nggak kecewa karena kikil pun enak banget untuk dicampur ke tipe nasi goreng seperti ini! Nasi Goreng Preman yang dipesan pun saya tambahkan ekstra Extreme Kikil! Let’s try it!

"Preman" Level 0 (Menenangkan)

“Preman” Level 0 (Menenangkan)

 

Bagaimana rasanya? Wah.. Kecurigaan saya sebelumnya langsung runtuh saat suapan pertama masuk ke mulut. Rasa rempahnya yang kaya sangat terasa dan rasa kencurnya yang khas menambah nikmat si Preman ini. Selain itu, cita rasa dan tekstur kikil yang sudah dibumbui sebelumnya cocok banget menjadi lauk pendamping, aduh.. langsung ketagihan dan rasanya ingin memesan lagi (tapi nggak jadi karena inget berat badan, haha). Walaupun saya memesan level 0, tapi pedasnya cukup terasa. Jadi apabila memang tidak terlalu suka atau tidak kuat pedas, level 0 saja sudah cukup untuk dipesan, itupun saya jadi harus memesan minum dua botol karena nggak kuat menahan pedasnya.

Pengalaman pertama makan Nasi Goreng Mafia membuat saya berkunjung lagi ke sini dalam waktu kurang dari satu minggu untuk mencoba menu lain. Kali ini saya tertarik untuk memesan “Brandal” Level 0 yang mencampurkan Kemangi sebagai salah satu bahannya, tentunya dengan tambahan extreme kikil dan telor dadar. Ternyata “Brandal” juga menggunakan tauco sebagai bahannya yang membuat rasanya menjadi khas nikmatnya dan “kampung banget”, saya suka! Sesuai prediksi, daun kemangi pun menjadi hero yang menjadikan rasa pedasnya nasi goreng ini semakin kaya.

"Brandal" Level 0 dengan Kikil & Telor Dadar

“Brandal” Level 0 dengan Kikil & Telor Dadar

 

Hanya dua kali datang kesini tentunya nggak cukup bagi saya karena kunjungan terakhir semakin membuktikan bahwa memang Nasi Goreng Mafia bukan cuma soal asal pedas tapi memang cita rasa mulai dari rempah, toping, sampai kondimen lain juga secara detail diperhatikan sehingga membuat rasanya juara bagi saya. Apalagi kalau lagi lapar-laparnya, serasa masalah di dunia lenyap seketika. Kunjungan selanjutnya wajib mencoba menu lain dan membuktikan konsistensi rasa dan uniknya ingredient yang ditawarkan di setiap menunya. Nah, buat kamu yang memang penggemar makanan pedas atau ingin mencoba Nasi goreng yang rasanya nggak cuma gitu-gitu aja atau pedasnya “pedes-pedesan” doang, it’s a must visit!

My Foodgasm Tips: Pesan Extreme Kikil dan Makan Nasi Gorengnya bersama Kerupuk Putih. Juara dunia deh!

 

Nasi Goreng Mafia

Jl. Tebet Raya No. 27 D, Jakarta Selatan

Twitter: @NasGorMafia

Seharian di Bandung: What to Eat?

18 May

Pasti sudah banyak review kuliner Bandung di luaran sana. Ya, Bandung memang salah satu surganya Wisata Kuliner karena selain pilihannya banyak, rasanya pun juara! Beberapa kali bolak-balik ke Bandung pun masih saja kebingungan memilih “Sarapan apa ya?” “Siang enaknya makan apa ya?” “Malam Wisata Kuliner ke mana ya?”

Apa kamu juga begitu? Kalau begitu pas banget karena kali ini saya mau coba rekomendasikan tiga tempat kuliner menggoda selera seandainya kamu keliling Bandung dari pagi sampai malam! Buat cita rasa saya, makanan yang direkomendasikan berikut sih dijamin enak, yang gak dijamin itu perut jadi tetap langsing, haha! So here it is, Foodholic!

 

Sarapan

Udara Bandung yang masih dingin saat pagi paling enak memang cari sarapan yang “haneut”.  Membaca beberapa review makanan, salah satu tempat yang paling pas untuk didatangi kalau mau sarapan enak di Bandung itu ya GOR Padjadjaran. “Di mana tuh?” Ya di Jl. Padjadjaran Bandung. Dari pinggir jalan, cuma terlihat parkiran mobil-mobil saja, tapi pas masuk ke dalam terlihat kios-kios kecil dan gerobak bertebaran menjajakan makanan. Kalau makan di sini, cobain bubur yang kiosnya ada di ujung terjauh sebelah kiri. Menunya  banyak: Bubur Ayam pastinya ada, selain itu ada bubur lainnya yaitu bubur bebek, ikan, kepiting, sampai… Bubur Ubur-ubur, and it’s the most recommended one!

My Foodgasm Tips: Pesan Dim Sum (My Fav is Kaki Ayam). Ketika menyantap bubur, tambahkan sedikit kecap asin + Jahe goreng, Enak banget jadinya!

Bubur Ubur-ubur + Angsio Kaki Ayam. GOR Padjadjaran, Bandung

Bubur Ubur-ubur + Angsio Kaki Ayam. GOR Padjadjaran, Bandung

 

Makan Siang

Setelah capek keliling-keliling factory outlet untuk belanja baju branded yang harganya miring, paling cocok emang makan besar alias cari makanan dengan porsi yang bikin perut anti-berontak sampai malam karena porsi dan rasanya yang nyam nyam! Coba deh mampir ke Jl. Cipaganti dan masuk ke Restoran Dahapati, gak nolong enaknya.. Enak banget! Kalau makan di sini, nggak boleh kelewatan pesan menu jagoannya yaitu Sop Buntut Goreng. Kenapa? Pertama, buntutnya empuk banget (ini pasti sang koki masak pakai panci presto). Kedua, rasa caramel  + bawang bombaynya yang nggak pelit bikin rasa sop buntut gorengnya selalu terbayang-bayang dan pengen makan di sini lagi sampai bikin ngences. Selain itu, kuah sopnya juga spesial banget karena kaldunya asli dan pol. Nggak aneh kalau makanan ini yang paling saya rekomendasikan buat dicobain kalau ada teman atau saudara yang lagi ke Bandung. Makanya, kamu harus coba juga! :D

My Foodgasm Tips: Pesan Jus Semangka untuk melengkapi lezatnya Sop Buntut Goreng. Why? Jus Semangka di sini nggak pake es batu, tapi semangkanya dibikin frozen. Garansi foodgasm deh!

Sop Buntut Goreng Dahapati, Jl. Cipaganti, Bandung

Sop Buntut Goreng Dahapati, Jl. Cipaganti, Bandung

 

Makan Malam

Lagi-lagi karena udara Bandung pasti dingin, apalagi saat malam, makanan berkuah udah pasti jadi pilihan utama buat dicoba. Langganan saya kalau lagi berkunjung ke Bandung adalah “Soto Susu Dago”, sebenarnya nama tadi adalah nama sebutan dari teman-teman saat kuliah di sini. Letaknya di Jl. Dipati Ukur, Bandung (Samping Bank BCA Dago). Apa yang istimewa dari Soto Susu (lazimnya sih disebut Sop Kaki Kambing)? None other else than kuahnya! Karena rasa susunya berasa banget! Ditambah minyak samin dan rasa rempahnya (ada rasa sedikit kayu manis) memperkaya si soto susu. Buat yang suka jeoran kambing, pasti akan doyan banget untuk pesan potongan yang bisa dipilih sendiri mulai dari usus, lidah, hingga otak. Bagi yang nggak suka, daging sapi atau kambing pun rasanya pasti akan tetap nikmat karena basically Kuah sopnya sih yang emang juara banget.

My Foodgasm Tips: Don’t forget to squeeze the lime + add small amount of soy sauce. Yummy!

Soto Susu Jl. Dipati Ukur, Bandung

Soto Susu Dago – Jl. Dipati Ukur, Bandung

 

Nah… jadi kapan akan berencana ke Bandung? Boleh lho sempetin makan di makanan rekomendasi saya mulai pagi sampai malam.. Dijamin ketagihan deh dan makin sering mengunjungi Kota Kembang! Buat yang pernah cobain 3 makanan di atas, silahkan kasih rekomendasi juga di bagian comment yuk!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.